“Srek srek” suara sapu lidi beradu dengan pinggiran taman yang beraspal. “Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttttttt…………..bruk”!
“Suara apa itu? Kayak ada yang jatuh”, batinku.
“Ummi…ummii…liat apa yang Aisyah temuin. Seekor burung ummi…cantik. Hiks…kasian ummii…sayapnya berdarah. Ini pasti kerjaan anak-anak yang suka maen ketapel! Sebal!” teriak anakku, Aisyah, sambil menghentakkan kakinya.
Aku cuman tersenyum memperhatikan tingkah laku Aisyah. Anak bungsuku yang masih berumur 6 tahun. Dia memang paling tidak tahan kalau ada hewan yang sakit karena ulah manusia. Lagipula, disekitar sini memang banyak anak-anak yang suka main ketapel dan target mereka adalah burung-burung disekitar situ.
“Yeah, just for fun”, kata mereka jikalau ditanya.
“lihatlah ummi”, kata Aisyah sambil menyodorkan burung kecil yang sekarang berada di tangannya yang mungil ke arahku.
Aku membelai lembut rambutnya dan memperhatikan burung kecil itu.
“Kasihan ya burung kecil ini, Aisyah. Dia tidak bisa terbang karena sayapnya terluka. Apa ya..yang bisa kita lakukan?” tanyaku menggoda sambil mengerlingkan mata kearah Aisyah.
“merawatnyaaa….sampai sembuh…boleh ya ummi? Pleaseeee….”, teriak Aisyah girang sambil merengek.
“Iya iya boleh…tapi dengan syarat…”
“yaaaa…kok pakai syarat segala”
“lo ya harus itu. Syaratnya, apapun yang berhubungan dengan burung kecil ini harus menjadi tanggung jawabnya Aisyah sendiri. Tidak boleh membebani siapapun. Mulai dari makannya, minumnya, mengganti perbannya, membersihkan kandang, memandikan, dan lain-lain. Mengerti? Setuju?” jelasku.
“Mengerti ummi! Setuju ummi!” jawabnya.
***
“Wah, sepertinya birdy kecil sudah sembuh ya? Sudah bisa terbang sepertinya.”kataku.
“Iya ummi, sayap birdy sudah tidak luka lagi. Sudah sembuh. Sepertinya sudah bisa terbang” katanya riang.
“Sepertinya sudah waktunya untuk dilepas lagi biar birdy bisa terbang bebas” kataku.
“Ndak mau ummi, Aisyah ndak mau ngelepas birdy. Ndak mau. Birdy punya Aisyah! Dan cuman akan menjadi milik Aisyah! Gak ada orang lain yang boleh punya birdy!” kata Aisyah tegas.
“Aisyah, anak ummi kok keras kepala gini yah“
“habisnyaaaa….ummi nyuruh Aisyah buat ngelepas birdy. Aisyah kan sudah susah-susah merawat birdy. Kalau birdy kena ketapel lagi gimana?”
Hmmm…gimana ya caranya menerangkan sesuatu dengan mudah, jelas, ringkas, simple, tapi punya makna yang dalam ke anak yang baru berumur 6 tahun? Beberapa kemudian, aku tersenyum.
“Iya, birdy kecil milik Aisyah kok. Birdy gak akan diambil siapa-siapa. Aisyah mau menemani ummi masak di dapur?” tawarku.
“Aisyah, tolong ambilkan 1 butir telur yang ada diatas meja itu. DIpegang yang kuat ya sayang, biar gak jatuh” pintaku.
“Iya ummi”
Tidak beberapa lama aku mendengar teriakan Aisyah.
“Kenapa Aisyah?” tanyaku
“Ummi jangan marah ya, telurnya pecah. Aisyah yang mecahin. Tadi Aisyah pegang erat telurnya biar gak jatuh tapi ternyata malah pecah”, terangnya lirih.
“nggak, ummi gak marah kok” kataku sambil kubelai rambutnya.
Kuambil 2 butir telur yang ada diatas meja.
“Aisyah, ummi punya 2 butir telur. Kalau ummi taruh 1 telur ini diatas kedua telapak tangan ummi…telur ini tidak akan pecah dan tidak akan jatuh dan telur ini masih bisa mempunyai ruang gerak. Tapi jika ummi memegang telur ini erat sampai dia tidak punya ruang gerak yang tersisa…apalagi jika ummi menangkukapkan kedua telapak tangan ummi erat-erat…telur ini akan pecah…seperti apa yang telah Aisyah lakukan tadi” terangku.
“Iya ummi….terus?”. Ternyata Aisyah mengerti juga kalau ada maksud yang tersembunyi dari penjelasanku itu tadi.
“Begitu juga dengan makhluk hidup. Kita boleh sayang dengan makhluk tersebut. Kita memberi batasan-batasan dan ruang tertentu untuknya, tetapi kita tidak boleh memegangnya erat-erat. Karena makhluk tersebut tidak akan mempunyai ruang gerak dan kebebasan untuk mengembangkan dirinya dan belajar dari pengalamannya sendiri. Dan walaupun kita begitu mencintainya dan tidak ingin melepasnya atau pergi jauh darinya, ada saatnya juga kita harus siap untuk merelakannya pergi. Karena mungkin itulah yang terbaik untuknya” terangku panjang lebar.
“Maksud ummi….Aisyah musti rela buat ngelepas birdy? Walaupun Aisyah sayang birdy?” kataku.
“Terus…yang ngasih makan siapa? Kalau kena ketapel lagi bagaimana?” tanyanya.
“Aisyah, setiap makhluk hidup akan tumbuh, berkembang, dan terbentuk dari apa yang mereka usahakan. Anak yang pandai terbentuk karena dia berusaha keras untuk belajar. Seseorang yang kaya terjadi karena dia berusaha keras untuk mencari uang. Begitu juga dengan birdy, dia akan menjadi burung yang kuat dan cantik kalau dia dibiarkan hidup dialam bebas dan berusaha dengan sendirinya.” Terangku lagi. Aisyah diam termenung. Kucium ubun-ubunnya.
“Naaahh…sekarang Aisyah musti bantuin ummi buat ngebersihin lantai bekas telur pecah. Otre. No excuse! Musti bersih!” kataku.
“Yaaaaa………ummiiiiii….” keluhnya.
***
Keesokan paginya kulihat Aisyah sudah didepan kandang birdy sambil ikutan berkicau mengikuti kicauan si birdy. Lucu….gak ada kicauan yang keluar…yang ada cuman hembusan nafas…dan pipinya yang kembang kempis…berusaha bersiul tapi gak bisa juga. Kuhampiri dia.
“Adjuuuhhh…rajin amat si eneng. Pagi-pagi gineah udah maen maen ama si birdy…gak kurang pagi atuh neng?” godaku.
“yaelah ummi…”. Kulihat dia terdiam sambil menatapku lama…dalam. Belum preña Aisyah melihatku sedalam itu. Ada apa?
“Ummi…”
“Ya sayang…ada apa?”
“Sepertinya sudah waktunya si birdy dilepas”, katanya.
“kenapa?” tanyaku.
Dia menatapku lagi lama. Seperti berusaha merangkai kata-kata.
“Si birdy udah sembuh. Dan sepertinya si birdy ingin terbang. Di dalam kandang ini, birdy tidak bisa terbang. Dan menurut Aisyah, setiap orang berhak tahu kicauan birdy. Gak cuman Aisyah.” terangnya patah-patah.
Aku terharu mendengarnya. Ternyata penjelasanku semalam bisa diterimanya dengan baik. Dan ternyata dia memikirkan apa yang aku sampaikan. Ya Allah Aisyah, kamu baru berumur 6 tahun. Dan kamu sudah bisa meresap, memikirkan, dan mengerti apa yang aku sampaikan. Semoga pelajaran ini akan terus kamu ingat nak.