Project Juzz Amma – Update 3

March 6, 2012 in Featured, Living Thought, Story Telling, Uncategorized

I am progressing, I am progressing….another 3 surahs have been tackled…time is ticking…another 39 days and still 20 surahs need to be memorized…But now I have a trick…I will not try to memorize the surah in orderly manner…Now I will pick the surah that interest me and try to memorize it…if it is too hard I will postpone it for later…

Wish me luck! Another 20 surahs! Yippiieee…

Burung gereja – Ayah – Anak

January 1, 2011 in Little Aisyah and family, Story Telling

“Aisyah, udah waktunya tidur…cuci kaki, cuci muka, dan sikat gigi…” kataku mengingatkan Aisyah. Sudah pukul 10 malam dan Aisyah masih saja asyik bermain.

“Iya ummi” jawabnya dan kemudian menuju kamar mandi.

Tidak berapa lama kemudian Aisyah sudah keluar lagi dari kamar mandi. “Ummi, hari ini cerita sebelum tidurnya tentang apa?” tanyanya sewaktu udah baringan di tempat tidur mungilnya. Sudah menjadi kebiasaan buatku untuk bercerita sebelum Aisyah tidur. Dan hari ini aku benar-benar lupa mau bercerita tentang apa…

“hmmm…apa ya enaknya…bentar-bentar…ummi mikir dulu ya …” kataku sambil nyengir…

“oh ya…cerita malam ini tentang burung gereja, seorang ayah dan anak laki-lakinya yang beranjak dewasa. ”

“Suatu hari ayah dan anaknya sedang duduk-duduk di taman di depan rumah mereka. Sang anak sedang asyik membaca korannya dan sang ayah asyik memperhatikan jalan. Tidak berapa lama kemudian datanglah seekor burung gereja berkicauan dan hinggap di pepohonan didekat sang ayah dan anak tersebut. ”

apa itu? tanya sang ayah….dan anaknya pun menjawab burung gereja…tak berapa lama sang ayah bertanya lagi - apa itu? – sang anak pun kembali menjawab – burung gereja – untuk ketiga kalinya sang ayah bertanya lagi kepada anaknya dengan pertanyaan yang sama pula -apa itu?- sang anak pun kesal dan menjawab -burung gereja ayah burung gereja, berapa kali musti aku jawab kalau itu burung gereja. Apa sih yang ayah gk mengerti??

“Sang ayah pun terdiam untuk beberapa saat dan kemudian berjalan menuju rumah. Kemudian kembali sambil membawa sebuah buku tebal dan usang. Ternyata buku itu adalah buku harian sang ayah. Kemudian sang ayah membuka bukunya dan menyuruh anaknya membacanya keras-keras. Hari ini aku mengajak anakku yang berumur 3 tahun berjalan-jalan ditaman. Anakku gembira sekali, berlari kesana kemari tak kenal lelah. Hari ini anakku mengajukan 21 pertanyaan yang sama berulang-ulang. Pertanyaan itu adalah – apa itu – Dan kujawab pula 21 kali dengan jawaban yang sama pula – burung gereja. Kukecup keningnya dan kupeluknya setiap kali aku menjawab pertanyaannya. Tidak ada satupun kesal didalam jawabanku. Aku begitu bangga dengannya.”

“Sang anak pun menangis dan langsung memeluk ayahnya dan meminta maaf.”

“Nah sekarang Aisyah tidur ya….udah malam…besok Aisyah musti bangun pagi dan sekolah….” kataku

“Ummi….” panggilnya pelan

“Ya sayang? ” jawabku

“Aisyah janji Aisyah akan berusaha sayang sama ummi tulus…gak marah kalau ummi tanya…gak bentak ummi kalau ummi gak ngerti apa maksud Aisyah…Aisyah sayang ummi banget” katanya sambil melihat mataku dalam-dalam dan kemudian langsung memelukku.

Aku jujur terharu. “Ummi juga sayang Aisyah” kataku….kutatap matanya lekat-lekat….”dan Ummi juga bangga punya anak seperti AIsyah”. Kuselimuti dia dan kucium keningnya sebelum aku meninggalkan kamarnya.

Aisyah, doa Ummi akan selalu menyertaimu nak

Berteriak == mematikan pribadi

May 17, 2010 in Little Aisyah and family, Story Telling

“Duuuuhhh kamu bodoh bener sih! Ngerjain kayak gini aja nggak bisa! Sebal dapat satu kelompok ma kamu! Udah aku kerjain sendiri aja mulai sekarang! Kamu terima beres!” teriak Aisyah marah-marah ke temannya satu kelompok.

Setelah itu temannya yang bernama Anton ini pun pulang ke rumahnya, kelihatan sedih. Kasian.

“Ummi, gak ada jajan ya?” tanya Aisyah.

“Aisyah lapar? Adanya ini pisang goreng. Mau?” jawabku.

“Gak lapar sih ummi, tapi pengen aja kunyah-kunyah gitu.” Jawabnya sambil mencomot pisang goreng yang udah agak dingin.

Aku menemaninya makan pisang goreng di sampingnya. Sebenarnya sambil menunggu dia mengoceh….seperti biasanya. Tidak berselang kemudian….

“Duuh ummi, sebel banget deh hari ini…dapat teman satu kelompok yang gak seberapa pintar. Jadinya Aisyah musti nerangin ini itu dari basic. Aisyah kan capek ummi…membuang waktu Aisyah aja. Daripada gitu ya udah, Aisyah bilang aja kalau Aisyah yang bakal kerjain semuanya. Duuuuh capek..” ceritanya.

“Ya udah ummi, Aisyah pergi ngerjain pe-er dulu ya” pamitnya setelah makan satu biji pisang goreng.

“Iya sayang, belajar yang rajin yah” jawabku.

Akkkh waktunya membersihkan perpustakaan. Sewaktu membersihkan perpustakaan, aku menemukan kliping tentang nasihat-nasihat yang aku kumpulkan. Waaahhh udah lama banget aku gak melanjutkan hobby ini lagi…hmmm sejak kapan yah? Sepertinya sejak Aisyah lahir deh. Hehehehehe….baca baca bentar akh…

“Ummi, Aisyah mau tidur…” kata Aisyah. Tiba-tiba aja dia udah disampingku.

“Tidur? Jam berapa sekarang Aisyah?” tanyaku heran.

“Lo ummi, ini udah jam 9 malam. Kenapa?” jawabnya

“Astaghfirullah, jam 9 malam…waaa ummi keasyikan baca-baca di perpustakaan…gak kerasa udah 3 jam…hehehehee”

“Ya udah, Aisyah udah bersihin muka? Sikat gigi? Cuci kaki? Ganti baju tidur? Sholat isha? “ tanyaku

“Idih ummi, kayak reporter aja tanyanya terus-terusan…..udah ummiiii….semuanya udah“ jawabnya. Aku nyengir denger jawabannya. Seperti biasa, aku membacakan sebuah cerita sebelum tidur buat Aisyah.

“Kali ini, ummi mau cerita tentang berteriak. Jadi ada satu penduduk di kepulauan Solomon yang letaknya di Pasifik selatan. Penduduk primitive ini punya suatu kebiasaan yang unik yaitu meneriaki pohon. Kebiasaan ini mereka lakukan untuk memudahkan mereka memotong pohon yang besar dan kuat.”

“Kenapa begitu ummi?”

“Jadi begini, beberapa dari orang yang kuat disuruh memanjat pohon yang besar dan kuat ini, dan ada beberapa orang yang di bawah. Bersama-sama mereka meneriaki pohon ini selama 40 hari terus-menerus. Dan tahu gk apa yang terjadi kemudian?” tanyaku.

“hmmm….pohon ini jadi bisa dipotong dengan mudah?” jawabnya dengan ragu-ragu.

“Yup! Betul! Karena ternyata pohon ini jadi perlahan-lahan mati. Daunnya rontok, cabang kayunya mengering…dan akhirnya benar-benar mati. Aneh kan? Coba bayangkan Aisyah, kalau kita berteriak terus-menerus ke manusia…gimana coba jadinya?” tanyaku

“hmmm….orang tersebut akan mati juga? Tapi bagaimana bisa, ummi?”

“hehehehe, tidak mati secara fisik tapi mati secara mental atau rohani. Misal ya ada orang bilang ke bawahannya, ‘Dasar pekerja gk becus, bodoh, binatang aja jauh lebih pintar dari kamu’….misal ada orang digituin terus menerus, bisa jadi orang ini lama kelamaan akan hilang akal pikirannya….merasa bahwa dirinya memang bodoh, idiot, atau apalah itu. Atau bisa jadi orang tersebut akan merasa stress dan depresi banget…dan akhirnya memutuskan untuk menyakiti dirinya atau menyakiti orang tersebut…Naudzubillah min dalid. Sebenarnya Aisyah tahu gak manfaat dari berteriak itu apa ?“ tanyaku.

“Hmmm, biar didengar orang” jawabnya

“Yup! Tapi itu dalam kondisi tertentu. Misalnya jika kita ingin berbicara dengan orang yang jauh jaraknya. Jadi kadang ada orang yang bertengkar juga saling berteriak padahal jarak antara mereka cuman 15 cm. Itu karena hati mereka begitu jauhnya satu sama lain walaupun fisik mereka sebenarnya dekat. Selain itu, berteriak membuat kita tanpa sadar mengeluarkan semua perkataan yang bisa menyakiti orang lain. Begitu Aisyah. Mengerti?“

Aisyah mengangguk lemah, dan berpikir…

“Ada apa?” tanyaku.

“Ummi, berarti Aisyah udah mematikan mentalnya Anton yah” katanya

“Loh kenapa bisa begitu?”

“Iya, tadi Aisyah marah-marah ke Anton karena dia gak bisa ngerjain bagiannya dengan benar. Aisyah jengkel padahal 2 hari lagi tugasnya mesti dikumpulkan. Anton juga gak mengerti konsepnya tugas itu…gimana ngerjainnya dkk…jadi Aisyah harus keluar effort lagi untuk ngajarin dia. Jadinya Aisyah jengkel terus mengeluarkan kata-kata yang kurang baik. Duuh…Aisyah salah banget ummi…Kasian Anton…padahal harusnya Aisyah bantuin Anton bukan malah menghinanya…” jelasnya

Sambil tersenyum kuberkata, “Aisyah…manusia itu sering melakukan kesalahan. Beruntunglah Aisyah menyadari kesalahan yang Aisyah buat. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana Aisyah merubah itu dan berusaha memperbaikinya.”

“Iya, Ummi. Besok, Aisyah mau minta maaf sama Anton terus bakal ngajarin Anton sampai Anton mengerti dan bisa ngerjain sendiri. Makasih ya Ummi…Aisyah bakal berusaha gak berteriak lagi kalau memang tidak diperlukan” katanya.

Entah kenapa, semuanya terdengar tulus dimulutnya yang mungil itu. Ya Allah, ini anugerah terindah yang pernah kauberikan kepadaku. Seorang anak yang polos, lucu, tulus dalam perbuatannya. Kucium keningnya sambil berdoa “semoga kau dilindungi selalu oleh-Nya dan dijauhkan dari segala marabahaya baik yang nyata maupun yang tidak nyata, Amien”

Ghazwul Fikr – Perang Pemikiran

May 17, 2009 in Little Aisyah and family, Story Telling

“Ummi..ummi…” teriak anakku Aisyah

“Eit, Aisyah…lupa ya….kalau mau masuk rumah harus bilang apa dulu? Hayoo…” ingatku..

“Ooops…maaf ummi…iya…Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam…nah gitu…baru anaknya ummi…” kataku sambil menyentil hidungnya pelan.

“kenapa kok teriak-teriak panggil ummi sepulang dari Ngaji?” tanyaku.

“hmmm….apa ya…kok Aisyah lupa…” katanya….

“Yeee….”

Tapi kulihat dia memang sedang berpikir keras untuk mengingat lagi apa yang hendak disampaikannya. Aisyah…aisyah…kamu ini….duuuh…lucunya.

“Oh yah..ummi…gini. Tadi waktu ngaji, mbak Fa bilang ‘Kalau saat ini itu sebenarnya masih ada perang tapi perang ini gak keliatan mata. Gak pake pedang tapi lebih kejam daripada perang biasa’, gitu ummi” terangnya

“Terus mbak Fa gak bilang apa apa lagi?” tanyaku dan dijawabnya dengan gelengan.

“mbak Fa gak bilang nama perangnya itu apa?” tanyaku lagi

“hmmm…apa ya…hmmm….kalau gak salah sih…perang pemikiran ummi…tapi Aisyah gak tau apa itu perang pemikiran…gimana pikiran bisa saling berperang…” jawabnya.

“Oooooo” responku sambil ngeloyor pergi ke dapur.

“Lo lo ummi…mau kemana? Kok gak dijawab apa apa…?” tanyanya bingung.

“Lo itu tadi pertanyaan toh? Kirain cuman pernyataan…” kataku dengan nada menggoda.

“Aaaakkkhhh ummi aaa…bercanda mulu”

“Iya iya…tapi bentar ya…ummi selesain masak dulu yah…nanti gosong…gak bisa makan deh kita nanti”

***

Akhirnya selesai juga memasak daging balado dan cap cay pesanan masku. Heran kok tiba-tiba masku pengen banget dimasakin daging balado dan cap cay. Padahal kalau dipikir-pikir mana nyambung daging balado ama cap cay. Yaa…tapi buat masku….apa aja boleh deh. Hihihihihi. Selesai menyiapkan masakan di meja makan, kulihat Aisyah langsung menghampiriku.

“Ayo ummi…jelasin…perang apa itu?” tagihnya.

“Aisyah tolong ummi bentar ya. Tolong ambilin 2 plastik yang ada di meja dapur, satu isinya mangga dan satunya lagi isinya ketimun” kataku. Aku tersenyum melihat rasa penasaran anakku yang tinggi.

Setelah itu kami duduk di badukan di depan taman. Angin berhembus sepoi-sepoi terasa sejuk. Kukeluarkan 2 buah itu, mangga dan ketimun. 

“Ada berapa buah yang ummi pegang?” tanyaku.

“2” jawabnya sambil heran kebingungan.

“yang ditangan kiri ummi apa, dan yang ditangan kanan ummi apa?” tanyaku lagi.

“yang ditangan kiri mangga, dan yang ditangan kanan ketimun” jawabnya masih dengan nada kebingungan.

“Good good…gimana kalau kita maen game? Gamenya begini. Kalau ummi mengangkat buah mangga ini maka Aisyah harus bilang ‘mangga’ dan juga sebaliknya…kalau ummi mengangkat buah ketimun maka Aisyah harus bilang ‘ketimun’…gitu..mengerti?” terangku

“oooo…otre otre..” jawabnya sambil mengangguk-angguk.

Kita melakukan game ini selama 5 menit dan Aisyah tidak melakukan kesalahan satupun. 

“ok ok…sekarang kita ganti methode gamenya. Kalau ummi mengangkat mangga, Aisyah musti bilang ‘ketimun’ dan begitu juga sebaliknya…kalau ummi mengangkat ketimun, Aisyah musti bilang ‘mangga’…mengerti?” terangku.

“Mengeerrttiii…”

Pada awalnya Aisyah kebingungan dan selalu melakukan kesalahan dalam menyebutkan nama buah buah tersebut. Tapi selang 5 menit dia menjadi terbiasa dan tanpa kesalahan lagi. Aku pun menghentikan gameku.

“Lo ummi kok berhenti…padahal Aisyah udah terbiasa..” tanyanya.

Aku tersenyum. “Justru itu pointnya. Aisyah bertanya tentang perang pemikiran bukan?” tanyaku. Dia pun menganggukkan kepala.

“Perang pemikiran itu juga punya methode yang sama dengan game ini. Sesuatu yang seharusnya A dirubah menjadi B. Seperti tadi…mangga dirubah menjadi ketimun. Pada awalnya mungkin memang terasa aneh, janggal, dan tidak terbiasa. Tetapi setelah lama kelamaan hal-hal tersebut akan menjadi biasa buat kita dan kita sendiri sudah lupa. Dan terkadang kita akan merasa bahwa A itu adalah B dan B adalah A. Tanpa kita sadari” terangku.

“dan kenapa dikatakan sebagai perang, ummi? Dan apa jeleknya buat kita?”

“Waduh, kenapa ya kok dikatakan sebagai perang? Aku gak pernah menyangka harus mempersiapkan jawaban seperti itu. Masak aku bilang karena itu caranya amerika untuk menjajah bangsa yang lemah? Mana ngerti dia. Dia kan masih berumur 6 tahun” kataku dalam hati.

Hmmm….apa yah?

“mmmm….kenapa kok itu dikatakan sebagai perang? Karena itu adalah pertentangan dua hal antara yang baik dan salah, antara yang A dan B, antara yang seharusnya, sebaiknya dilakukan atau tidak. Dan pertentangan ini dimasukkan nya kedalam akal kita. Akal kita dipengaruhi sehingga hati kita tidak sensitive lagi dan bahkan tidak mengetahui lagi mana yang baik, benar, dan mana yang salah. Maka dari itu disebut sebagai perang pemikiran. Karena yang diserang bukan fisik kita, tetapi OTAK kita dan PEMIKIRAN kita. “

“Dan kenapa jelek buat kita ummi?” tanyanya lagi.

“Yah anggap aja seperti tadi ketimun dan mangga. Kalau misalnya ada orang yang alergi terhadap ketimun tapi dia tidak tahu bahwa apa yang dia makan adalah ketimun karena dia menganggap bahwa yang dia makan adalah mangga, apakah itu akan membawa kebaikan padanya?” tanyaku balik.

“Yah nggak sih ummi, bisa bisa dia mati pelan pelan….hiiii serem” katanya.

“Makanya itu kenapa kok perang pemikiran itu berbahaya. Makanya kita harus rajin rajin membaca berita, buku, menggali ilmu pengetahuan, dan mencari kebenaran. Semua itu agar kita waspada dengan apa yang kita terima. Jangan asal terima apapun, tapi perlu disaring dulu. Mengerti?” kataku sambil mengerlingkan mata. 

“Oooooo….gitu toh…wah kalau gitu Aisyah musti jadi anak pintar dan rajin membaca…dan pastinya musti kritis…Aisyah belajar dulu ummi…” katanya sambil beralih ke meja belajarnya.

Yaelah …dasar Aisyah ini…semoga kamu bisa terhindar dari segala upaya manusia untuk menyesatkanmu anakku. Amien

Mencintai tak harus mengekang

May 17, 2009 in Little Aisyah and family, Story Telling

Srek srek” suara sapu lidi beradu dengan pinggiran taman yang beraspal. “Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttttttt…………..bruk”!

“Suara apa itu? Kayak ada yang jatuh”, batinku.

“Ummi…ummii…liat apa yang Aisyah temuin. Seekor burung ummi…cantik. Hiks…kasian ummii…sayapnya berdarah. Ini pasti kerjaan anak-anak yang suka maen ketapel! Sebal!” teriak anakku, Aisyah, sambil menghentakkan kakinya.

Aku cuman tersenyum memperhatikan tingkah laku Aisyah. Anak bungsuku yang masih berumur 6 tahun. Dia memang paling tidak tahan kalau ada hewan yang sakit karena ulah manusia. Lagipula, disekitar sini memang banyak anak-anak yang suka main ketapel dan target mereka adalah burung-burung disekitar situ. 

“Yeah, just for fun”, kata mereka jikalau ditanya.

“lihatlah ummi”, kata Aisyah sambil menyodorkan burung kecil yang sekarang berada di tangannya yang mungil ke arahku.

Aku membelai lembut rambutnya dan memperhatikan burung kecil itu. 

“Kasihan ya burung kecil ini, Aisyah. Dia tidak bisa terbang karena sayapnya terluka. Apa ya..yang bisa kita lakukan?” tanyaku menggoda sambil mengerlingkan mata kearah Aisyah.

“merawatnyaaa….sampai sembuh…boleh ya ummi? Pleaseeee….”, teriak Aisyah girang sambil merengek.

“Iya iya boleh…tapi dengan syarat…”

“yaaaa…kok pakai syarat segala”

“lo ya harus itu. Syaratnya, apapun yang berhubungan dengan burung kecil ini harus menjadi tanggung jawabnya Aisyah sendiri. Tidak boleh membebani siapapun. Mulai dari makannya, minumnya, mengganti perbannya, membersihkan kandang, memandikan, dan lain-lain. Mengerti? Setuju?” jelasku.

“Mengerti ummi! Setuju ummi!” jawabnya.

***

“Wah, sepertinya birdy kecil sudah sembuh ya? Sudah bisa terbang sepertinya.”kataku.

“Iya ummi, sayap birdy sudah tidak luka lagi. Sudah sembuh. Sepertinya sudah bisa terbang” katanya riang.

“Sepertinya sudah waktunya untuk dilepas lagi biar birdy bisa terbang bebas” kataku.

“Ndak mau ummi, Aisyah ndak mau ngelepas birdy. Ndak mau. Birdy punya Aisyah! Dan cuman akan menjadi milik Aisyah! Gak ada orang lain yang boleh punya birdy!” kata Aisyah tegas.

“Aisyah, anak ummi kok keras kepala gini yah“

“habisnyaaaa….ummi nyuruh Aisyah buat ngelepas birdy. Aisyah kan sudah susah-susah merawat birdy. Kalau birdy kena ketapel lagi gimana?”

Hmmm…gimana ya caranya menerangkan sesuatu dengan mudah, jelas, ringkas, simple, tapi punya makna yang dalam ke anak yang baru berumur 6 tahun? Beberapa kemudian, aku tersenyum.

“Iya, birdy kecil milik Aisyah kok. Birdy gak akan diambil siapa-siapa. Aisyah mau menemani ummi masak di dapur?” tawarku.

“Aisyah, tolong ambilkan 1 butir telur yang ada diatas meja itu. DIpegang yang kuat ya sayang, biar gak jatuh” pintaku.

“Iya ummi”

Tidak beberapa lama aku mendengar teriakan Aisyah. 

“Kenapa Aisyah?” tanyaku

“Ummi jangan marah ya, telurnya pecah. Aisyah yang mecahin. Tadi Aisyah pegang erat telurnya biar gak jatuh tapi ternyata malah pecah”, terangnya lirih.

“nggak, ummi gak marah kok” kataku sambil kubelai rambutnya.

Kuambil 2 butir telur yang ada diatas meja. 

“Aisyah, ummi punya 2 butir telur. Kalau ummi taruh 1 telur ini diatas kedua telapak tangan ummi…telur ini tidak akan pecah dan tidak akan jatuh dan telur ini masih bisa mempunyai ruang gerak. Tapi jika ummi memegang telur ini erat sampai dia tidak punya ruang gerak yang tersisa…apalagi jika ummi menangkukapkan kedua telapak tangan ummi erat-erat…telur ini akan pecah…seperti apa yang telah Aisyah lakukan tadi” terangku.

“Iya ummi….terus?”. Ternyata Aisyah mengerti juga kalau ada maksud yang tersembunyi dari penjelasanku itu tadi.

“Begitu juga dengan makhluk hidup. Kita boleh sayang dengan makhluk tersebut. Kita memberi batasan-batasan dan ruang tertentu untuknya, tetapi kita tidak boleh memegangnya erat-erat. Karena makhluk tersebut tidak akan mempunyai ruang gerak dan kebebasan untuk mengembangkan dirinya dan belajar dari pengalamannya sendiri. Dan walaupun kita begitu mencintainya dan tidak ingin melepasnya atau pergi jauh darinya, ada saatnya juga kita harus siap untuk merelakannya pergi. Karena mungkin itulah yang terbaik untuknya” terangku panjang lebar.

“Maksud ummi….Aisyah musti rela buat ngelepas birdy? Walaupun Aisyah sayang birdy?” kataku.

“Terus…yang ngasih makan siapa? Kalau kena ketapel lagi bagaimana?” tanyanya.

“Aisyah, setiap makhluk hidup akan tumbuh, berkembang, dan terbentuk dari apa yang mereka usahakan. Anak yang pandai terbentuk karena dia berusaha keras untuk belajar. Seseorang yang kaya terjadi karena dia berusaha keras untuk mencari uang. Begitu juga dengan birdy, dia akan menjadi burung yang kuat dan cantik kalau dia dibiarkan hidup dialam bebas dan berusaha dengan sendirinya.” Terangku lagi. Aisyah diam termenung. Kucium ubun-ubunnya. 

“Naaahh…sekarang Aisyah musti bantuin ummi buat ngebersihin lantai bekas telur pecah. Otre. No excuse! Musti bersih!” kataku.

“Yaaaaa………ummiiiiii….” keluhnya.

***

Keesokan paginya kulihat Aisyah sudah didepan kandang birdy sambil ikutan berkicau mengikuti kicauan si birdy. Lucu….gak ada kicauan yang keluar…yang ada cuman hembusan nafas…dan pipinya yang kembang kempis…berusaha bersiul tapi gak bisa juga. Kuhampiri dia.

“Adjuuuhhh…rajin amat si eneng. Pagi-pagi gineah udah maen maen ama si birdy…gak kurang pagi atuh neng?” godaku.

“yaelah ummi…”. Kulihat dia terdiam sambil menatapku lama…dalam. Belum preña Aisyah melihatku sedalam itu. Ada apa?

“Ummi…”

“Ya sayang…ada apa?”

“Sepertinya sudah waktunya si birdy dilepas”, katanya.

“kenapa?” tanyaku.

Dia menatapku lagi lama. Seperti berusaha merangkai kata-kata.

“Si birdy udah sembuh. Dan sepertinya si birdy ingin terbang. Di dalam kandang ini, birdy tidak bisa terbang. Dan menurut Aisyah, setiap orang berhak tahu kicauan birdy. Gak cuman Aisyah.” terangnya patah-patah. 

Aku terharu mendengarnya. Ternyata penjelasanku semalam bisa diterimanya dengan baik. Dan ternyata dia memikirkan apa yang aku sampaikan. Ya Allah Aisyah, kamu baru berumur 6 tahun. Dan kamu sudah bisa meresap, memikirkan, dan mengerti apa yang aku sampaikan. Semoga pelajaran ini akan terus kamu ingat nak.